Kau.
Bertumpu pada ragu.
Sesat bagaikan sendu.
Racunmu, menorehkan luka dibanyak hati..
Termasuk hatiku, dulu.
Aku tau,
Kau pantau tulisanku.
Sekarang kujadikan kau objek dalam kalimatku.
Agar kau mengerti, bagaimana aku, hatiku, hidup dan lukaku, ingin mengakhirimu..
Kau.
Memang pernah menjadi angka satu,
Dalam urutan kataku.
Menjadi pintu,
Pada benteng hatiku.
Tapi kau bunuh cintaku.
Kau rasuki deritaku.
Begitu kejam,
Menembus tulang dan berbekas di kulitku.
Sudahlah, cukup.
Kau sudah berada di pelupuk benci terliarku.
Bukan rindu lagi.
Pergilah berkutat dengan dusta dan wanitamu.
Aku pun akan terus menggenggam terang dari sosok matahariku.
Karena sekarang,
Semua telah karam,buram.
Bagai kertas ditinta hitam lalu dibakar, menjadi abu..
lalu tertiup angin dan.. Hilang.
Menyisakan sebutir debu terakhir, yang melalui puisi ini, aku tiup dan lepaskan..
Tanpa sisa.
... Karena cinta, tidak pernah menyakiti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar