Minggu, 17 Juli 2011

- sihir sang penyair -

Bagaimana. 
Aku bisa gila terus berteman dengan kendala. 
Tapi bagaimana? 
Menjauhiku seperti berat sekali bagi sang bala. 

Lelah aku. 
Dianggap seperti manusia tidak tau diri. 
Padahal adakah yang bisa membuka diri? Mencoba mengerti? 

Duri itu suka datang sendiri! 
Bukan aku yang meminta. 
Aku disini sudah mencoba, 
Berganti tingkah menjadi anak manis dan baik adanya. 
Tapi sudah begitu, bagaimana bisa, berpuisi pun aku tetap berdosa. 
Berkata apapun tetap salah juga. 

Hey! Lancang sekali kau, duri! 
Belum saja satu kaki sanggup tegap berdiri. 
Sudah kau buat aku jatuh lagi. 

Bagaimana ini. 
Kemana larinya langit bersih tanpa biru? 
Mimpi indah tanpa kelabu? 
Tak berani melangkah aku takut akan marah. 
Tak berani berlari aku benci akan caci. 

Hey penyihir! 
Sihir aku dalam dongengmu. 
Hey penyair! 
Telan aku dalam puisimu. 
Dan kau, bumi. 
Tolong lahirkan aku lagi, 
Bersih tanpa noda. 
Indah tanpa dosa. 
Bahagia tanpa derita. 
Menjelma sebagai putri dalam kerajaanku sendiri. 
Akan kumusuhi si kendala dan kurangkul erat si bijaksana. 
Sehingga tidak ada lagi, tidak akan lagi, aku berhadapan dengan kecewa. 
Dimatamu, dimataku, dimata dia, dimata mereka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar